Tanaman hias daun tidak punya musim bunga yang ditunggu-tunggu, tapi justru itu kelebihannya: tampilannya hijau dan rapi sepanjang tahun. Masalahnya, tanaman daun juga yang paling sering dibeli lalu mati dalam beberapa bulan. Penyebabnya hampir selalu sama: tanaman teduh ditaruh di terik, tanaman panas ditaruh di pojok gelap, atau semuanya disiram dengan jadwal yang sama.
Artikel ini membagi 30 tanaman hias daun ke dalam tiga kelompok: yang cocok di dalam rumah dan tempat teduh, yang tahan panas di luar, dan yang dipilih karena warnanya. Setiap tanaman dilengkapi kebutuhan cahaya, cara siram, campuran media, dan satu kebiasaan perawatan yang paling berpengaruh. Di bagian akhir ada perawatan dasar dan daftar penyebab daun menguning. Kalau kamu mencari tanaman bunga atau gantung, lihat daftar 50 tanaman hias untuk rumah.
Harga di artikel ini adalah perkiraan untuk pot kecil sampai sedang di nursery dan marketplace, dan bisa jauh berbeda tergantung varietas, ukuran, dan penjual. Catatan racun mengacu pada daftar tanaman beracun dan tidak beracun dari ASPCA untuk kucing dan anjing. Tanaman yang tidak tercantum di sana ditulis “belum ada data”, yang tidak sama dengan aman.
Tanaman hias daun indoor (teduh)
Kelompok pertama ini untuk ruangan yang tidak kena matahari langsung: ruang tamu, kamar, dapur berjendela, atau teras beratap lebar. Patokan sederhananya, kalau kamu masih bisa membaca buku di siang hari tanpa menyalakan lampu, cahayanya cukup untuk sebagian besar tanaman di bawah ini.
1. Sirih gading (Epipremnum aureum)
Ini tanaman yang paling sering jadi “tanaman pertama” orang Indonesia, dan alasannya masuk akal. Sirih gading tetap tumbuh di sudut agak gelap, cepat pulih setelah dipangkas, dan bisa diperbanyak cuma dengan air. Varietas yang banyak dijual: hijau-kuning biasa, Marble Queen yang putih, dan Neon yang hijau terang.
- Cahaya: teduh sampai setengah teduh. Di tempat yang terlalu gelap, corak kuning atau putihnya memudar dan ruas batangnya memanjang
- Penyiraman: sekitar seminggu sekali; tunggu sampai separuh media atas terasa kering
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: kalau sulurnya memanjang dan botak, potong di atas ruas daun. Dari bekas potongan biasanya muncul dua cabang baru, jadi tanaman makin rimbun
- Harga kira-kira: sekitar Rp10–40 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
2. Monstera (Monstera deliciosa)
Monstera muda belum berlubang. Lubang dan sobekan khasnya baru muncul setelah tanaman cukup dewasa dan mendapat cahaya yang memadai. Jadi kalau daun barumu tetap utuh bertahun-tahun, kemungkinan besar tempatnya terlalu gelap.
- Cahaya: setengah teduh, sedekat mungkin dengan jendela tanpa terik siang langsung
- Penyiraman: 1–2 kali seminggu saat kemarau, lebih jarang saat musim hujan
- Media: campuran sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah (kira-kira 2:2:1), ditambah perlite atau pakis cacah kalau ada
- Kunci perawatan: beri tiang lumut atau papan kayu untuk dipanjat. Monstera yang memanjat menghasilkan daun lebih besar daripada yang dibiarkan menjalar di lantai
- Harga kira-kira: sekitar Rp35–150 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
3. Philodendron (Philodendron spp.)
Philodendron terbagi dua: jenis merambat seperti philodendron hijau dan Brasil, dan jenis tegak seperti Burle Marx, Birkin, dan Xanadu. Jenis merambat cocok untuk rak dan pot gantung, jenis tegak untuk lantai atau meja.
- Cahaya: setengah teduh; Birkin butuh cahaya cukup terang supaya garis putihnya tetap muncul
- Penyiraman: saat 3–4 cm media atas kering, biasanya 1–2 kali seminggu
- Media: campuran sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah (kira-kira 2:2:1), ditambah perlite atau pakis cacah kalau ada
- Kunci perawatan: daun baru yang kecil dan pucat biasanya tanda kurang pupuk atau kurang cahaya. Beri pupuk cair dosis setengah tiap dua minggu saat tanaman aktif menambah daun
- Harga kira-kira: sekitar Rp25–150 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
4. Zamia (ZZ plant) (Zamioculcas zamiifolia)
Zamia menyimpan air di umbi dan batangnya yang gemuk, jadi cocok untuk orang yang sering lupa. Daunnya yang hijau mengilap sering dikira tanaman plastik.
- Cahaya: teduh; masih bertahan di ruangan yang cukup redup
- Penyiraman: 2–3 minggu sekali di dalam ruangan. Kalau ragu, tunda dulu
- Media: campuran sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah (kira-kira 2:2:1), ditambah perlite atau pakis cacah kalau ada, dengan porsi sekam lebih banyak
- Kunci perawatan: tanaman ini tumbuh lambat dan sering terlihat “diam” berbulan-bulan, lalu tiba-tiba mengeluarkan beberapa tunas sekaligus. Jangan menambah siraman hanya karena tanaman tidak tumbuh
- Harga kira-kira: sekitar Rp30–100 ribu
- Hewan peliharaan: tidak tercantum di daftar ASPCA, tetapi zamia termasuk keluarga talas-talasan yang getahnya bisa mengiritasi mulut dan kulit. Perlakukan seperti tanaman beracun.
5. Lidah mertua (Dracaena trifasciata (dulu Sansevieria trifasciata))
Lidah mertua punya puluhan bentuk: daun pedang tinggi bergaris kuning, jenis pendek berbentuk roset seperti Hahnii, dan jenis silinder. Semuanya tahan teduh, tetapi juga bisa ditaruh di teras terik.
- Cahaya: teduh sampai matahari penuh. Kalau dipindah dari teduh ke terik, lakukan bertahap supaya daunnya tidak gosong
- Penyiraman: 2–3 minggu sekali di dalam ruangan, seminggu sekali di teras saat kemarau
- Media: campuran pasir malang, sekam bakar, dan sedikit tanah supaya air cepat turun
- Kunci perawatan: pakai pot yang tidak terlalu besar. Media yang terlalu banyak menyimpan air terlalu lama, dan akar busuk adalah penyebab utama lidah mertua mati
- Harga kira-kira: sekitar Rp15–75 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
6. Spathiphyllum (peace lily) (Spathiphyllum spp.)
Peace lily sebenarnya punya bunga putih, tetapi orang memeliharanya terutama karena daunnya yang hijau tua mengilap dan kuat di ruangan teduh. Tanaman ini jujur soal haus: daunnya langsung lemas saat kekurangan air.
- Cahaya: teduh; cahaya yang sedikit lebih terang membuatnya lebih rajin berbunga
- Penyiraman: saat daun mulai sedikit lemas atau media atas kering, biasanya 2 kali seminggu
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: jangan biarkan sering layu total. Sekali dua kali tidak apa-apa, tetapi kalau berulang, ujung daunnya akan menguning dan mengering
- Harga kira-kira: sekitar Rp20–75 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
7. Suplir (Adiantum spp.)
Suplir adalah pakis dengan daun kecil seperti kipas di atas tangkai hitam setipis kawat. Cantik sekali untuk meja, tetapi termasuk yang paling cepat merana kalau media kering.
- Cahaya: teduh, jauh dari angin AC dan kipas
- Penyiraman: jaga media selalu lembap; saat kemarau bisa 3–4 kali seminggu
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata, dengan tambahan cocopeat supaya lebih menahan air
- Kunci perawatan: kalau satu bagian daunnya kering dan keriting, potong habis sampai pangkal. Selama akarnya sehat, tunas baru biasanya muncul dalam beberapa minggu
- Harga kira-kira: sekitar Rp15–50 ribu
- Hewan peliharaan: tidak tercantum di daftar ASPCA (belum ada data).
8. Dracaena fragrans (pohon jagung) (Dracaena fragrans)
Tanaman berbatang kayu dengan daun panjang seperti daun jagung, sering bergaris kuning di tengah (varietas Massangeana). Cocok mengisi sudut ruangan yang butuh tanaman tinggi.
- Cahaya: teduh sampai setengah teduh
- Penyiraman: seminggu sekali, saat media atas kering
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: ujung daun cokelat sering muncul kalau disiram dengan air keran berkaporit. Endapkan air semalam atau pakai air hujan yang ditampung
- Harga kira-kira: sekitar Rp30–150 ribu tergantung tinggi
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
9. Syngonium (Syngonium podophyllum)
Daunnya berbentuk anak panah, dengan varietas hijau, putih, dan merah muda. Saat muda tanaman ini kompak di pot, lalu perlahan berubah merambat.
- Cahaya: teduh sampai setengah teduh; varietas merah muda butuh cahaya lebih terang supaya warnanya tidak pudar
- Penyiraman: saat media atas kering, kira-kira 1–2 kali seminggu
- Media: campuran sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah (kira-kira 2:2:1), ditambah perlite atau pakis cacah kalau ada
- Kunci perawatan: kalau ingin tetap kompak, pangkas sulur yang memanjang. Potongannya bisa diakarkan di air seperti sirih gading
- Harga kira-kira: sekitar Rp15–50 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
10. Pakis boston (Nephrolepis exaltata)
Pakis dengan daun panjang menjuntai, cocok di pot gantung teras yang teduh. Udara yang lembap membuatnya rimbun; udara kering membuat daunnya rontok seperti serbuk.
- Cahaya: teduh
- Penyiraman: media jangan sampai kering; saat kemarau bisa hampir setiap hari
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata, dengan tambahan cocopeat
- Kunci perawatan: semprot daun dengan air di pagi hari saat kemarau, dan buang daun tua yang menguning dari pangkalnya supaya tunas baru mendapat ruang
- Harga kira-kira: sekitar Rp20–60 ribu
- Hewan peliharaan: aman: ASPCA mencatat pakis boston tidak beracun.
11. Dieffenbachia (daun bahagia) (Dieffenbachia spp.)
Daunnya lebar bercorak krem, tumbuh dari batang tegak yang lama-lama meninggi. Di ruangan teduh, dieffenbachia tetap terlihat segar dengan perawatan minimal.
- Cahaya: teduh sampai setengah teduh
- Penyiraman: seminggu sekali, saat media atas kering
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: kalau batangnya terlalu tinggi dan daun bawah rontok, potong batang di ketinggian yang kamu mau. Pangkal yang tersisa akan bertunas lagi. Pakai sarung tangan, karena getahnya membuat kulit gatal
- Harga kira-kira: sekitar Rp20–60 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing, dan getahnya bisa membuat mulut serta tenggorokan bengkak.
Tanaman hias daun outdoor (tahan panas)
Kelompok kedua untuk halaman, teras terbuka, dan atap dak yang kena matahari penuh. Tanaman di sini juga harus kuat menghadapi hujan deras berhari-hari, jadi media yang cepat kering sama pentingnya dengan ketahanan terhadap panas. Untuk pilihan bunga dan penataan depan rumah, lihat artikel tanaman hias outdoor.
12. Puring (Codiaeum variegatum)
Puring punya ratusan bentuk daun, dari lebar seperti telapak tangan sampai tipis melintir. Warnanya paling keluar justru saat kena terik, sehingga cocok untuk halaman depan yang panas.
- Cahaya: matahari penuh; di tempat teduh warnanya kembali kehijauan
- Penyiraman: setiap hari saat kemarau kalau di pot, 2–3 kali seminggu saat musim hujan
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: puring yang baru dipindah tempat sering menggugurkan beberapa daun. Itu reaksi adaptasi; jangan langsung disiram lebih banyak
- Harga kira-kira: sekitar Rp15–50 ribu
- Hewan peliharaan: tidak tercantum di daftar ASPCA, tetapi getah putihnya dikenal mengiritasi kulit dan mulut. Jauhkan dari hewan yang suka menggigit tanaman.
13. Pucuk merah (Syzygium myrtifolium)
Tanaman pagar paling populer di perumahan baru. Pucuknya merah menyala lalu berubah hijau seiring daun menua, jadi warna merahnya bergantung pada pemangkasan rutin.
- Cahaya: matahari penuh
- Penyiraman: sekali sehari saat kemarau kalau masih di pot atau baru ditanam; setelah akarnya kuat di tanah, jauh lebih jarang
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: pangkas setiap 1–2 bulan. Setiap pemangkasan memancing pucuk baru yang merah, jadi pagar yang rajin dipangkas terlihat paling berwarna
- Harga kira-kira: sekitar Rp10–50 ribu tergantung tinggi
- Hewan peliharaan: tidak tercantum di daftar ASPCA (belum ada data).
14. Andong (Cordyline fruticosa)
Andong punya daun panjang berwarna merah tua, ungu, atau merah muda bergaris. Di banyak daerah ditanam di pekarangan dan dipakai untuk upacara adat.
- Cahaya: matahari penuh sampai setengah teduh; warnanya paling pekat di tempat terang
- Penyiraman: 2–3 kali seminggu saat kemarau
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: batang yang terlalu tinggi bisa dipotong per 10–15 cm, lalu ditancapkan ke media untuk diperbanyak
- Harga kira-kira: sekitar Rp10–50 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing (Cordyline terminalis, nama lain andong).
15. Walisongo (Schefflera arboricola)
Daunnya tersusun melingkar seperti jari-jari payung. Walisongo kuat di teras panas, tetapi juga bisa masuk ke dalam rumah dekat jendela.
- Cahaya: setengah teduh sampai matahari penuh
- Penyiraman: 2 kali seminggu
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: kalau ingin tanaman melebar dan rimbun, potong pucuk teratasnya. Kalau dibiarkan, walisongo cenderung meninggi dengan batang yang kurus
- Harga kira-kira: sekitar Rp20–75 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
16. Teh-tehan (Acalypha siamensis)
Teh-tehan adalah pagar hidup klasik dengan daun kecil yang rapat. Murah, tahan pangkas, dan mudah diperbanyak dari setek batang.
- Cahaya: matahari penuh
- Penyiraman: 2–3 kali seminggu saat kemarau, hampir tidak perlu disiram saat musim hujan
- Media: tanah kebun biasa yang dicampur kompos
- Kunci perawatan: pangkas bagian atas sedikit lebih sempit daripada bagian bawah. Bentuk seperti ini membuat cahaya sampai ke daun bawah sehingga pagar tidak bolong
- Harga kira-kira: sekitar Rp3–10 ribu per polybag
- Hewan peliharaan: hati-hati: ASPCA mencatat kerabatnya dari genus Acalypha (copperleaf) sebagai tanaman beracun.
17. Lee kwan yew (Vernonia elliptica)
Tanaman rambat yang menjuntai lebat seperti tirai, sering dipakai untuk menutupi pagar atau tembok balkon. Sulurnya bisa turun beberapa meter.
- Cahaya: matahari penuh
- Penyiraman: setiap hari saat kemarau
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: rapikan ujung sulur setiap bulan supaya tirainya rata. Kalau bagian dalam mulai kering dan cokelat, itu tanda tanaman kurang air atau terlalu rapat
- Harga kira-kira: sekitar Rp10–35 ribu
- Hewan peliharaan: tidak tercantum di daftar ASPCA (belum ada data).
18. Palem kuning (Dypsis lutescens)
Palem berumpun ini bisa di dalam maupun di luar. Di halaman, palem kuning kuat menghadapi panas asal tanahnya tidak kering kerontang.
- Cahaya: matahari penuh sampai setengah teduh
- Penyiraman: jaga media lembap; 2–3 kali seminggu saat kemarau
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: pelepah tua yang menguning boleh dipotong. Jangan memotong pelepah yang masih hijau, karena tanaman memakai cadangan makanannya
- Harga kira-kira: sekitar Rp25–100 ribu
- Hewan peliharaan: aman: ASPCA mencatat palem kuning (areca palm) tidak beracun.
19. Lidah buaya (Aloe vera)
Lidah buaya sering ditanam karena gelnya, tetapi daunnya yang tebal bergerigi juga cantik di pot teras. Sangat tahan panas.
- Cahaya: matahari penuh, idealnya terlindung dari hujan deras berhari-hari
- Penyiraman: seminggu sekali saat kemarau, hampir tidak perlu saat musim hujan
- Media: campuran pasir malang, sekam bakar, dan sedikit tanah supaya air cepat turun
- Kunci perawatan: daun yang menipis dan melengkung tanda kurang air; daun yang lembek dan menguning di pangkal tanda kebanyakan air
- Harga kira-kira: sekitar Rp10–40 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
20. Pakis haji (Cycas revoluta)
Pakis haji tumbuh sangat lambat dengan daun keras seperti sisir yang keluar melingkar dari batang. Sering dipakai sebagai titik fokus taman depan.
- Cahaya: matahari penuh sampai setengah teduh
- Penyiraman: seminggu sekali; tahan kering
- Media: campuran pasir malang, sekam bakar, dan sedikit tanah supaya air cepat turun
- Kunci perawatan: daun baru keluar serempak dalam satu periode. Saat itu, jangan memindah pot, karena daun muda yang masih lunak mudah bengkok
- Harga kira-kira: sekitar Rp50–250 ribu tergantung ukuran batang
- Hewan peliharaan: sangat beracun bagi hewan peliharaan, terutama bijinya. ASPCA mencatat sago palm (Cycas) sebagai tanaman beracun. Jangan tanam di halaman tempat anjing bermain.
Tanaman hias daun berwarna
Kelompok terakhir dipilih karena warnanya: merah, merah muda, ungu, perak, atau bercorak. Hampir semua tanaman daun berwarna punya aturan yang sama: terlalu gelap membuat warnanya pudar, terlalu terik membuat daunnya gosong. Cari tempat terang tanpa terik siang.
21. Aglonema (sri rejeki) (Aglaonema spp.)
Aglonema merah seperti Red Anjamani, Lipstik, dan Suksom adalah tanaman daun berwarna yang paling banyak dijual di Indonesia. Varietas merah butuh cahaya lebih banyak daripada varietas hijau.
- Cahaya: setengah teduh; cahaya pagi membuat warna merahnya lebih tegas
- Penyiraman: saat media atas kering, kira-kira 2 kali seminggu saat kemarau
- Media: campuran sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah (kira-kira 2:2:1), ditambah perlite atau pakis cacah kalau ada
- Kunci perawatan: aglonema tidak suka media padat. Ganti media setahun sekali dan pakai pot dengan banyak lubang di dasar
- Harga kira-kira: sekitar Rp25–200 ribu untuk varietas umum
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
22. Calathea (Calathea spp.)
Calathea punya corak garis, bulu, dan garis tepi yang tampak seperti dilukis, dengan balik daun ungu pada banyak varietas. Daunnya bergerak naik di malam hari.
- Cahaya: teduh, cahaya terang tidak langsung
- Penyiraman: jaga media lembap tapi tidak becek; pakai air endapan semalam
- Media: campuran sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah (kira-kira 2:2:1), ditambah perlite atau pakis cacah kalau ada
- Kunci perawatan: ujung daun cokelat dan keriting hampir selalu karena udara kering atau air berkaporit. Kelompokkan dengan tanaman lain atau taruh nampan berisi kerikil basah di bawah pot
- Harga kira-kira: sekitar Rp30–100 ribu
- Hewan peliharaan: aman: ASPCA mencatat calathea tidak beracun.
23. Keladi hias (Caladium bicolor)
Daun keladi tipis dan hampir transparan dengan warna merah muda, merah, dan putih. Tanaman ini tumbuh dari umbi dan punya masa istirahat.
- Cahaya: setengah teduh; terik siang membakar daunnya yang tipis
- Penyiraman: jaga media lembap saat daun aktif; kurangi drastis saat daun mulai habis
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: kalau daunnya habis di musim kemarau, simpan pot di tempat teduh dan siram sesekali saja. Saat musim hujan, umbinya biasanya bertunas lagi
- Harga kira-kira: sekitar Rp15–75 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing.
24. Begonia rex (Begonia rex)
Begonia rex punya daun bercorak spiral, perak, ungu, dan merah dengan permukaan sedikit berbulu. Cocok untuk rak di dekat jendela.
- Cahaya: teduh, cahaya terang tidak langsung
- Penyiraman: siram ke media, bukan ke daun; tunggu media atas agak kering
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata, dengan tambahan sekam supaya lebih gembur
- Kunci perawatan: daun yang sering basah dan udara yang pengap memicu jamur tepung. Siram pagi hari dan beri jarak antar pot
- Harga kira-kira: sekitar Rp25–80 ribu
- Hewan peliharaan: beracun bagi hewan peliharaan. ASPCA mencatatnya sebagai tanaman beracun untuk kucing dan anjing (bagian paling beracunnya adalah umbi dan akar).
25. Maranta (tanaman doa) (Maranta leuconeura)
Daun maranta bercorak urat merah seperti tulang ikan di atas warna hijau tua. Pada malam hari daunnya menutup ke atas.
- Cahaya: teduh
- Penyiraman: jaga media lembap, 2–3 kali seminggu
- Media: campuran sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah (kira-kira 2:2:1), ditambah perlite atau pakis cacah kalau ada
- Kunci perawatan: maranta cenderung menjalar; tanam di pot lebar yang dangkal atau di pot gantung
- Harga kira-kira: sekitar Rp20–60 ribu
- Hewan peliharaan: aman: ASPCA mencatat prayer plant tidak beracun.
26. Miana (iler) (Coleus scutellarioides)
Miana punya daun bercorak merah, ungu, hijau, dan kuning dalam kombinasi yang hampir tak terbatas. Tumbuh cepat dan mudah diperbanyak dari setek.
- Cahaya: setengah teduh sampai matahari pagi; terik siang membuat daunnya layu
- Penyiraman: setiap hari saat kemarau; miana cepat layu kalau kering
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: petik kuncup bunga yang muncul. Kalau dibiarkan berbunga, tanaman memakai tenaganya untuk biji dan daunnya mengecil
- Harga kira-kira: sekitar Rp5–25 ribu
- Hewan peliharaan: hati-hati: ASPCA mencatat coleus (jenis Coleus amboinicus) sebagai tanaman beracun bagi hewan peliharaan.
27. Fittonia (Fittonia albivenis)
Tanaman kecil dengan jaring urat putih, merah, atau merah muda di atas daun hijau. Pas untuk meja kerja atau terarium.
- Cahaya: teduh
- Penyiraman: jaga media lembap; fittonia langsung rebah saat haus
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata, dengan tambahan cocopeat
- Kunci perawatan: kalau tanaman rebah karena kering, siram segera. Biasanya tegak lagi dalam beberapa jam, tetapi jangan sampai sering terulang
- Harga kira-kira: sekitar Rp15–40 ribu
- Hewan peliharaan: aman: ASPCA mencatat nerve plant (Fittonia) tidak beracun.
28. Zebrina (Tradescantia zebrina)
Daun bergaris ungu dan perak dengan balik daun ungu tua. Tumbuh cepat menjuntai dari pot gantung atau rak.
- Cahaya: setengah teduh; di tempat gelap garis peraknya memudar
- Penyiraman: saat media atas kering
- Media: campuran tanah, sekam bakar, dan kompos atau pupuk kandang matang dengan perbandingan sama rata
- Kunci perawatan: pangkas ujung batang tiap beberapa minggu dan tanam kembali potongannya di pot yang sama supaya bagian atas tetap penuh
- Harga kira-kira: sekitar Rp10–30 ribu
- Hewan peliharaan: hati-hati: ASPCA mencatat kerabat dekatnya, Tradescantia fluminensis, bisa memicu iritasi kulit pada hewan.
29. Bromelia (Guzmania spp. dan Neoregelia spp.)
Bromelia punya roset daun berwarna dengan “bunga” merah, kuning, atau oranye di tengahnya yang bertahan berbulan-bulan. Sebagian jenis daunnya sendiri yang berwarna.
- Cahaya: setengah teduh, cahaya terang tidak langsung
- Penyiraman: isi sedikit air di cekungan tengah roset dan ganti setiap minggu supaya tidak jadi sarang nyamuk; media cukup lembap saja
- Media: media porous seperti campuran sekam bakar, pakis cacah, dan sedikit cocopeat
- Kunci perawatan: setelah berbunga, induknya perlahan mati. Itu normal. Tunggu anakan di pangkal tumbuh sepertiga ukuran induk, lalu pisahkan ke pot baru
- Harga kira-kira: sekitar Rp30–100 ribu
- Hewan peliharaan: aman: ASPCA mencatat Guzmania dan Neoregelia tidak beracun.
30. Stromanthe Triostar (Stromanthe sanguinea)
Daunnya bercorak hijau, krem, dan merah muda dengan balik daun merah keunguan. Kerabat calathea, dengan sifat yang mirip.
- Cahaya: teduh sampai setengah teduh
- Penyiraman: jaga media lembap, pakai air endapan
- Media: campuran sekam bakar, cocopeat, dan sedikit tanah (kira-kira 2:2:1), ditambah perlite atau pakis cacah kalau ada
- Kunci perawatan: daun bagian krem dan merah muda paling cepat gosong. Kalau muncul bercak cokelat kering di bagian itu, geser pot sedikit menjauh dari jendela
- Harga kira-kira: sekitar Rp35–120 ribu
- Hewan peliharaan: tidak tercantum di daftar ASPCA (belum ada data).
Tabel 30 tanaman: cahaya, air, harga
Ringkasan semua tanaman di atas. Frekuensi siram adalah patokan musim kemarau; saat musim hujan atau di ruangan ber-AC, kurangi dan cek media dengan jari dulu. Kolom “Hewan” mengikuti daftar ASPCA: Aman tercatat tidak beracun, Beracun tercatat beracun, Hati-hati berarti kerabatnya tercatat beracun atau getahnya dikenal mengiritasi, dan Belum ada data berarti tidak tercantum.
| No | Tanaman | Cahaya | Siram | Harga kira-kira | Hewan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Sirih gading | Teduh | 1x seminggu | Rp10–40 rb | Beracun |
| 2 | Monstera | Setengah teduh | 1–2x seminggu | Rp35–150 rb | Beracun |
| 3 | Philodendron | Setengah teduh | 1–2x seminggu | Rp25–150 rb | Beracun |
| 4 | Zamia (ZZ plant) | Teduh | 2–3 minggu sekali | Rp30–100 rb | Hati-hati |
| 5 | Lidah mertua | Teduh–matahari | 2–3 minggu sekali | Rp15–75 rb | Beracun |
| 6 | Spathiphyllum (peace lily) | Teduh | 2x seminggu | Rp20–75 rb | Beracun |
| 7 | Suplir | Teduh | 3–4x seminggu | Rp15–50 rb | Belum ada data |
| 8 | Dracaena fragrans (pohon jagung) | Teduh | 1x seminggu | Rp30–150 rb | Beracun |
| 9 | Syngonium | Teduh | 1–2x seminggu | Rp15–50 rb | Beracun |
| 10 | Pakis boston | Teduh | Hampir tiap hari | Rp20–60 rb | Aman |
| 11 | Dieffenbachia (daun bahagia) | Teduh | 1x seminggu | Rp20–60 rb | Beracun |
| 12 | Puring | Matahari penuh | Tiap hari (kemarau) | Rp15–50 rb | Hati-hati |
| 13 | Pucuk merah | Matahari penuh | Tiap hari (kemarau) | Rp10–50 rb | Belum ada data |
| 14 | Andong | Matahari penuh | 2–3x seminggu | Rp10–50 rb | Beracun |
| 15 | Walisongo | Setengah teduh | 2x seminggu | Rp20–75 rb | Beracun |
| 16 | Teh-tehan | Matahari penuh | 2–3x seminggu | Rp3–10 rb | Hati-hati |
| 17 | Lee kwan yew | Matahari penuh | Tiap hari | Rp10–35 rb | Belum ada data |
| 18 | Palem kuning | Matahari penuh | 2–3x seminggu | Rp25–100 rb | Aman |
| 19 | Lidah buaya | Matahari penuh | 1x seminggu | Rp10–40 rb | Beracun |
| 20 | Pakis haji | Matahari penuh | 1x seminggu | Rp50–250 rb | Beracun |
| 21 | Aglonema (sri rejeki) | Setengah teduh | 2x seminggu | Rp25–200 rb | Beracun |
| 22 | Calathea | Teduh | Media lembap | Rp30–100 rb | Aman |
| 23 | Keladi hias | Setengah teduh | Media lembap | Rp15–75 rb | Beracun |
| 24 | Begonia rex | Teduh | Saat media agak kering | Rp25–80 rb | Beracun |
| 25 | Maranta (tanaman doa) | Teduh | 2–3x seminggu | Rp20–60 rb | Aman |
| 26 | Miana (iler) | Setengah teduh | Tiap hari | Rp5–25 rb | Hati-hati |
| 27 | Fittonia | Teduh | Media lembap | Rp15–40 rb | Aman |
| 28 | Zebrina | Setengah teduh | Saat media kering | Rp10–30 rb | Hati-hati |
| 29 | Bromelia | Setengah teduh | Isi cekungan mingguan | Rp30–100 rb | Aman |
| 30 | Stromanthe Triostar | Teduh | Media lembap | Rp35–120 rb | Belum ada data |
Perawatan dasar: media, pupuk, hama
Tiga puluh tanaman di atas punya kebutuhan yang berbeda-beda, tapi dasar perawatannya sama. Kalau tiga hal ini benar, sebagian besar masalah tidak akan muncul.
Media. Tanaman daun di pot butuh media yang gembur dan cepat membuang kelebihan air. Tanah kebun murni terlalu padat untuk pot; setelah beberapa kali disiram, tanah mengeras dan akar kekurangan udara. Pakai salah satu dari tiga campuran yang disebut di daftar: campuran umum (tanah, sekam bakar, kompos), campuran aroid untuk monstera, philodendron, dan aglonema (lebih banyak sekam dan cocopeat), atau campuran sukulen untuk lidah mertua, lidah buaya, dan pakis haji (pasir malang lebih banyak). Apa pun medianya, pot harus berlubang. Pot keramik cantik tanpa lubang cukup dipakai sebagai pot luar, dengan pot plastik berlubang di dalamnya.
Pupuk. Tanaman daun butuh nitrogen untuk membentuk daun baru. Dua cara yang mudah: pupuk lepas lambat (slow release) yang ditabur di permukaan media setiap 3 bulan, atau pupuk cair NPK seimbang dengan dosis setengah dari anjuran kemasan setiap 2–4 minggu. Jangan memupuk tanaman yang baru dipindah pot atau sedang sakit, karena akarnya belum siap menyerap dan malah bisa terbakar.
Hama. Hama yang paling sering muncul di tanaman daun di Indonesia:
- Kutu putih (mealybug): gumpalan putih seperti kapas di ketiak daun dan balik daun. Lap dengan kapas yang dibasahi alkohol 70%, lalu semprot ulang beberapa hari kemudian untuk telur yang tersisa.
- Tungau laba-laba: bintik pucat kecil di permukaan daun dan jaring halus di balik daun, sering muncul saat kemarau dan di ruangan ber-AC. Semprot balik daun dengan air, naikkan kelembapan, dan pakai minyak mimba (neem oil) sesuai petunjuk kemasan.
- Thrips: garis keperakan dan daun baru yang keriting. Potong daun yang parah, semprot minyak mimba, dan pisahkan tanaman dari koleksi lain.
- Siput dan bekicot: daun berlubang besar di tanaman teras, terutama setelah hujan. Periksa di malam hari dan ambil dengan tangan.
Daftar belanja dasar untuk merawat 5–10 pot tanaman daun, dengan harga perkiraan:
- Sekam bakar 1 karung kecil: sekitar Rp10–20 ribu
- Cocopeat 1 bal atau karung kecil: sekitar Rp10–30 ribu
- Pasir malang 1 kg: sekitar Rp10–20 ribu
- Pupuk slow release 100 gram: sekitar Rp15–30 ribu
- Pupuk cair NPK seimbang 1 botol kecil: sekitar Rp20–50 ribu
- Minyak mimba 100 ml: sekitar Rp25–60 ribu
- Pot plastik berlubang 15–25 cm: sekitar Rp5–25 ribu per buah
Saat membawa pulang tanaman baru, ikuti urutan ini supaya tanaman tidak kaget dan hama tidak menyebar:
- Hari ke-1: taruh tanaman baru terpisah dari koleksi lain. Periksa balik daun dan ketiak daun untuk kutu putih dan tungau.
- Hari ke-1 sampai ke-7: biarkan di pot bawaan penjual. Siram hanya kalau media atas kering. Daun yang menguning satu-dua helai di minggu pertama adalah reaksi pindah tempat yang wajar.
- Hari ke-7 sampai ke-14: kalau tidak ada tanda hama, pindahkan ke tempat permanennya. Ganti pot hanya kalau akar sudah keluar dari lubang dasar atau media bawaan berupa tanah liat padat.
- Hari ke-30: mulai beri pupuk dosis setengah kalau tanaman sudah mengeluarkan daun baru.
Kenapa daun menguning?
Daun menguning adalah keluhan paling umum pada tanaman hias daun. Kuncinya ada di pola: daun yang mana yang menguning, dan seperti apa kuningnya. Cocokkan ciri di bawah dengan tanamanmu.
- Banyak daun menguning sekaligus, terasa lembek, media berbau asam: kebanyakan air. Ini penyebab paling sering. Hentikan siraman, keluarkan tanaman dari pot, buang akar yang cokelat dan lembek, lalu tanam ulang di media baru yang lebih porous.
- Daun menguning lalu kering renyah, mulai dari ujung, media keras dan menjauh dari dinding pot: kekurangan air. Rendam pot di ember berisi air selama 15–20 menit sampai media basah merata, lalu siram lebih rutin.
- Hanya satu atau dua daun paling bawah yang menguning, daun baru tetap sehat: penuaan alami. Tanaman membuang daun tertua. Potong saja daunnya, tidak perlu mengubah perawatan.
- Daun pucat kekuningan merata, daun baru kecil, tanaman memanjang ke arah jendela: kurang cahaya. Geser ke tempat yang lebih terang secara bertahap.
- Bercak kuning pucat atau cokelat kering di sisi daun yang menghadap matahari: terbakar terik. Pindahkan ke tempat yang terlindung saat siang. Bagian yang gosong tidak akan pulih, tapi daun baru akan normal.
- Daun tua menguning merata, tanaman sudah lama tidak dipupuk atau diganti media: kekurangan nitrogen. Mulai pupuk rutin dosis setengah, dan ganti media kalau sudah lebih dari setahun.
- Daun menguning dengan bintik pucat atau jaring halus di balik daun: hama, biasanya tungau laba-laba. Tangani seperti di bagian hama di atas.
- Ujung dan pinggir daun menguning lalu cokelat, terutama di calathea, maranta, dracaena, dan palem: udara kering, angin AC, atau air berkaporit. Pakai air endapan semalam dan jauhkan pot dari hembusan AC.
Kesalahan yang sering terjadi setelah melihat daun kuning adalah langsung menambah siraman dan pupuk sekaligus. Kalau penyebabnya kebanyakan air, dua langkah itu justru mempercepat busuk akar. Cek media dengan jari dulu: basah berarti kurangi air, kering berarti tambah. Daun yang sudah kuning tidak akan kembali hijau, jadi ukur keberhasilan dari daun baru yang muncul dalam 3–4 minggu berikutnya.
Kalau kamu ingin melengkapi halaman dengan tanaman berbunga yang kuat di terik dan hujan, lanjutkan ke daftar tanaman hias outdoor untuk depan rumah.
Pertanyaan yang sering muncul
Tanaman hias daun apa yang tahan panas?
Tanaman daun yang kuat di matahari penuh antara lain puring, pucuk merah, andong, walisongo, teh-tehan, lee kwan yew, palem kuning, lidah buaya, dan pakis haji. Puring dan andong malah makin berwarna kalau kena terik. Pakai media yang cepat kering supaya tanaman juga tahan saat hujan deras berhari-hari.
Kenapa daun tanaman hias menguning?
Penyebab paling sering adalah kebanyakan air: banyak daun menguning sekaligus dan media berbau asam. Penyebab lain adalah kurang air, kurang cahaya, terbakar terik, kekurangan pupuk, hama, atau sekadar daun tua yang rontok alami. Lihat pola kuningnya dan cek media dengan jari sebelum menambah siraman atau pupuk.
Tanaman hias daun apa yang cocok untuk kamar?
Untuk kamar, pilih tanaman yang tahan teduh dan tidak rewel, seperti lidah mertua, zamia, sirih gading, spathiphyllum, atau fittonia untuk meja kecil. Taruh dekat jendela dan jauhkan dari hembusan AC langsung. Kalau kucing atau anjing ikut tidur di kamar, pilih yang tercatat tidak beracun seperti calathea, maranta, atau fittonia.
